Rabu, 30 November 2011

PRN HKBP PANSURAN NAULI PEMATANG SIANTAR

Apa itu bos?
Ooo, PRN itu singkatan dari Perkumpulan Remaja dan Naposobulung, maka PRN HKBP Pansuran Nauli berarti sebuah wadah tempat berkumpulnya remaja putra dan putri jemaat-jemat dari Gereja HKBP Pansuran Nauli. Gereja ini terletak di kota Pematang Siantar (kampung halamanku woii) yang jarak dari rumahku (rumah orang tuaku kok..) kegereja tersebut sekitar 500 m. Setiap remaja yang orang tuanya terdaftar menjadi jemaat di gereja tersebut boleh ikut masuk kedalam perkumpulan tadi. Tidak ada syarat yang spesifik (bukan melamar kerja kan? he..he..he), yang penting masih remaja (belum menikah) dan punya keinginan untuk berkumpul dalam memuliakan Tuhan.

Hmm, kok mau cerita tentang perkumpulan ini sekarang?
Yang menjadi latar belakang aku pingin cerita tentang perkumpulan ini adalah karena sebentar lagi natal akan tiba.

Lho, apa hubungannya?
Jangan protes dulu... Mendengar natal akan tiba, langsung membawaku kembali ke memori disaat bergabung dengan PRN Pansuran Nauli itu. Banyak dari natal-natal dengan kesan mendalam kujalani di perkumpulan ini. Disaat  aku mulai duduk di kelas 1 SMU di saat itu jugalah aku mulai masuk perkumpulan ini. Berikutnya, aku hampir mengikuti setiap perayaan natal yang dibuat oleh perkumpulan remaja ini. Sebab itulah aku tergelitik menulis tentang PRN HKBP Pansuran Nauli tersebut.

Ooo, mau nulis apa rupanya?
Aku mau menulis tentang apa-apa saja yang menjadikan natal bersama PRN Pansuran Nauli itu selalu terkenang dalam ingatan.
Simak ya...

Sulitnya mencari pemimpin
Saat memulai natal biasanya kita akan memilih ketua panitia natal terlebih dahulu. Proses pemilihan ini biasanya nggak gampang. Hampir tidak pernah kutemukan ada kandidat yang benar-benar mengajukan diri secara sukarela. Yang sering terjadi kandidat itu dipilih oleh anggota yang lain. Walaupun sudah diajukan oleh anggota yang lain tidak lantas membuat kandidat tadi langsung mau untuk dipilih. Ada saja satu atau dua orang yang melakukan penolakan. Mencari seorang pemimpin nampaknya masalah yang selalu berulang. Agak mengkhawatirkan memang ketika nanti kita tidak lagi menemukan orang-orang yang mau menerima tanggung jawab lebih besar. Perasaan malu, tidak mampu, nggak pantas, terlalu sibuk biasanya dijadikan alasan penolakan. Kaderisasi dari pemimpin lama perlu ditingkatkan kalau kita memang ingin hal tadi tidak terus berlanjut.
Berbeda dengan pemilihan ketua panitia, untuk pemilihan seksi kerja tidak terlalu banyak penolakan. Biasanya yang ditunjuk akan setuju saja.

Butuh waktu untuk menemukan konsep
Pekerjaan pertama panitia natal adalah menemukan bentuk perayaan natal seperti apa yang akan dilakukan. Ini biasanya tidak sebentar. Akan ada perdebatan-perdebatan yang mengiringi penemuan bentuk perayaan natal tadi. Ada kalanya yang terjadi konsep natal yag telah disusun oleh panitia tidak diterima oleh pengurus gereja yang membidangi kepemudaan. Pengurus gereja agak kurang "sreg" jika mengetahui konsep yang ditawarkan remaja/naposo cenderung eksploratif/tidak biasa/terlalu baru. Gereja HKBP termasuk gereja yang "orthodoks", dan pengurusnya (yang tua-tua) biasanya akan sulit menerima konsep-konsep baru.
Namun kejadian penolakan konsep baru dari naposo/remaja ini tidak terjadi lagi di masa sekarang. Naposo/Remaja di masa sekarang lebih memiliki kebebasan untuk menentukan bentuk/konsep perayaan natal apa yang akan dibawa. Perayaan natal mulai mengalami perubahan warna. Tidak lagi sekedar liturgi tradisional (berdiri dan membaca ayat alkitab), tapi sudah lebih variatif (liturgi dalam bentuk puisi, lagu, tari atau visualisasi drama).
Proses penemuan konsep inilah yang menjadikan setiap momen menjadi bermakna. Pertentangan pendapat membuat suasana menjadi lebih hidup (suasana tenang dan aman-aman saja biasanya gampang terlupa). Orang-orang dipancing untuk mengeluarkan ide-ide kreatifnya. Jadi kangen dengan suasana perdebatan tadi...

Perjuangan dalam mencari dana
Sebuah perayaan pasti memerlukan dana dan begitu juga dengan perayaan natal. Setiap seksi pasti akan diminta taksasi dana yang mereka butuhkan. Setelah direkapitulasi barulah ketahuan berapa total dana yang akan dibutuhkan. Biasanya proporsi penggunaan dana terbesar di pegang oleh seksi komsumsi.
Nah, setelah total dana diketahui barulah kemudian dicari cara menggali sumber-sumber dana. Mulailah setiap orang berpikir bagaimana, dimana, atau apa yang saja bisa dilakukan untuk mendapatkan dana. Metode yang digunakan dalam mencari dana biasanya tidak terlalu berbeda dari tahun ketahun. Misalnya, mencari dana dengan cara menjual kalender edisi tahun berikutnya. Ada juga yang menjual pernak pernik natal, atau mengumpulkan sumbangan sukarela dari badan usaha ataupun perorangan.
Beberapa orang akan diutus untuk menjalankan aksi pengumpulan dana natal tersebut. Perlu keahlian berkomunikasi agar dana yang diharapkan berhasil didapatkan. Orang yang dimintai dana biasanya akan meminta penjelasan terlebih dahulu. Misalnya, kenapa harga kalendernya mahal sekali? (biasanya harga kalender dinaikkan 2 kali lipat atau lebih, biar cepat untung hehehe). Disinilah nanti petugas-petugas pencari dana melatih kemampuan untuk menjual (sekalian modal awal untuk karir dibidang marketing hehehe). Penolakan seringkali juga diterima oleh petugas pengumpul dana. Rasa capek, malas dan putus asa menjadi tantangan bagi mereka. Itu semua baru akan terlupa setelah semua dana berhasil terkumpul. Rasa puas dan bangga menjadikan momen-momen dalam mengumpulkan dana ini menjadi sebuah kenangan khusus.

MARTINA-(berpacaran di masa-masa natal)
Marhallet tikki Natal (coba cek ejaannya ya...hehehe) atau disingkat Martina adalah sebutan khusus untuk kejadian adanya orang-orang yang berpacaran dimasa natal. Pertemuan dan komunikasi yang reguler dapat dipastikan menjadi penyebab munculnya kejadian ini. Peserta natal yang semuanya masih remaja pasti punya rasa penasaran terhadap lawan jenisnya. Dapat kita terka kalau berikutnya akan muncul pasangan muda-mudi yang berpacaran. Suasana semakin unik ketika muncul rasa kikuk diantara yang berpacaran. Rasa cemburu salah satu pasangan juga akan membuatnya tambah "rame". Kejadian berpacaran seperti ini lumrah terjadi. Tapi ini sering juga menjadi ketakutan bagi orang tua untuk mengijinkan anak perempuannya mengikut kegiatan natal ini. Mereka khawatir dengan keselamatan putrinya (hehehe....takut jatuh ketangan kucing garong), walaupun kejadian yang ada tidaklah seperti yang mereka pikirkan. Situasi berpacaran saat natal inilah yang membuat masa-masa natal menjadi indah dan tak terlupakan.

Oooo, pantas saja ya bos... 
Natal memang menjadi momen tak terlupakan.
Betul, perayaan natal penuh dengan momen-momen indah tak terlupakan. Proses dalam mempersiapkan perayaan natal tidaklah mudah, tapi inilah yang membuat semuanya menjadi tersimpan dalam memori (autosave... hehehe). Kebetulan di PRN HKBP Pansuran Nauli ini aku merasakan banyak perayaan natal di masa remaja. Inilah yang membuat perkumpulan ini menjadi istimewa juga untukku. Semoga perkumpulan ini semakin berkembang dan orang-orang yang ada didalamnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
God Bless...

Selasa, 06 September 2011

Pengolahan Karet Crumb Rubber Bagian ke-5

Perlu waktu yang cukup lama antara tulisan tentang Pengolahan Crumb Rubber Bagian ke-4 dengan Bagian ke-5. Berbagai kesibukan membuat lanjutan tulisan ini jadi agak terlambat (Maaf ya…). Dan sekarang inilah tulisanku yang ke-5 tentang Pengolahan Crumb Rubber. Mudah-mudahan tulisan ini memberi manfaat.
Dibagian ke-4, penjelasan saya akhiri pada proses yang ada di Gudang Maturasi dan sekarang saya akan melanjutkan lagi ke proses Pengeringan dan Pengepakan.

Schreding (Peremahan)
Sebelum memasuki proses pengeringan, blangket akan diremahkan dulu dengan mesin Schreder. Tujuan peremahan ini adalah untuk mendapatkan luasan permukaan yang cukup bagi bahan baku untuk kontak dengan udara panas di mesin Dryer. 
Gbr. Mesin Schreder sedang meremahkan blangket
Bentuk remahan juga memungkinkan bahan baku dapat dicetak didalam Box Dryer (sering juga disebut dengan trolley), sehingga memudahkan dalam proses Pengepakan.

Drying (Pengeringan)
Remahan-remahan yang dihasilkan oleh Schreder selanjutnya akan masuk ke bak panjang berisi air bersih (berfungsi sebagian pencuci dan media transport) didepan Schreder. Dari bak tersebut remahan kemudian dipindahkan melalui pipa dengan pompa Hidro Cyclon ke Box Dryer. Ada 2 orang yang bertugas untuk memastikan remahan masuk kedalam Box Dryer dengan baik dan benar (posisinya disebelah kanan dan kiri dari box dryer). 
Gbr. Proses pemindahan remahan dari Bak Schreder ke Box Dryer dengan Hidro Cyclone
Sebuah Box Dryer memiliki kapasitas 120 KgKering. Remahan harus masuk kedalam box dengan cara yang alami dan tidak boleh ada penekanan terhadap remahan. Hal ini untuk menghidari terjadi pemadatan didalam remahan. Remahan yang padat menyulitkan udara panas untuk menyentuh seluruh permukaan remahan. Akibatnya pengeringan menjadi tidak sempurna. Kepadatan remahan didalam box dryrer harus diatur sedemikian rupa sehingga masih dapat terjadi sirkulasi udara panas diantara celah-celah remahan pada saat pengeringan didalam dryer.
Pengeringan bertujuan untuk mendapatkan produk SIR 10 yang bebas dari kadar air. Kadar air yang lebih tinggi akan menurunkan ketahanan produk terhadap pembusukan. Kandungan air memungkinkan produk ditumbuhi oleh jamur. Menghilangkan kandungan air akan meningkatkan keawetan dari produk dan menjadi syarat agar dapat diolah pada proses selanjutnya. Produk SIR 10 sendiri adalah produk yang setengah jadi dan akan diproses lebih lanjut menjadi produk bahan jadi seperti ban mobil, belt conveyor, dock fender dan lain sebagainya.
Gbr. Mesin Dryer

Suhu pengeringan diatur pada suhu 110 - 126 derajat celcius. Total waktu pengeringan yang dilakukan adalah selama kurang lebih 4 jam. Operator dryer bertugas menjaga agar remahan benar-benar kering optimal. Kondisi remahan yang kurang kering biasanya memberikan akibat white spot ataupun virgin rubber pada produk akhir (bandela). Sedangkan bila suhu pengeringan terlalu tinggi atau waktu pengeringan terlalu lama maka hasil yang keluar dari dryer menjadi berlendir dan lengket-lengket. Kondisi karet berlendir dan lengket ini merupakan gambaran awal bahwa parameter mutu PRI (Plasticity Retention Index) gagal didapatkan.
Proses pengeringan di dalam Dryer menggunakan udara panas. Udara panas ini dihasilkan oleh Heat Echanger. Komponen pemanas yang terdapat pada Heat Exchager adalah susunan pipa yang berisi oli panas. Udara yang melewati pipa berisi oli panas inilah kemudian yang berubah menjadi udara panas dan kemudian diteruskan ke dalam dryer untuk mengeringkan remahan karet didalam box dryer. Udara tersebut selanjutnya disirkulasikan lagi ke Heat Exchanger sehingga dengan proses sirkulasi ini didapatkan suhu dryer yang stabil.
Oil panas yang ada didalam pipa merupakan oli panas yang mengalir dan bersirkulasi dari Thermal Oil Heater dan Heat Exchanger. Thermal Oil Heater berfungsi memanaskan oli yang terdapat didalam pipa. Oli panas ini selanjutnya dipompakan ke Heat Exchanger. Dari Heat Exchanger oli panas tersebut kembali lagi untuk dipanaskan di Thermal Oil Heater (TOH) dan begitu seterusnya. Bahan bakar yang digunakan oleh TOH adalah berupa Cangkang Sawit. Kami mengambilnya dari Pabrik Kelapa Sawit yang masih merupakan unit kerja dalam perusahaan kami. 
Gbr. Mesin Thermal Oil Heater (TOH)
Sebelum ada TOH ini, pabrik tempat saya bekerja menggunakan Burner untuk menghasilkan udara panas. Burner ini menggunakan bahan bakar minyak solar. Harga minyak solar untuk industri yang semangkin tinggi membuat perusahaan mengambil langkah mencari alternatif sumber energi baru. Hitachi kemudian menawarkan konsep Thermal Oil Heater yang menggunakan bahan bakar berupa cangkang sawit. Harga cangkang sawit jelas jauh lebih murah bila dibandingkan dengan minyak solar . Investasi awal untuk membangun TOH ini memang cukup besar, tapi keuntungan yang didapatkan dari perbedaan antara harga cangkang dan solar menjadikan TOH ini sangat layak dalam penilaian ekonomis.

Packing (Pengepakan)
Setelah Box yang berisi remahan keluar dari mesin Dryer, maka selanjutnya box dryer akan didinginkan isinya sampai 40 derajat Celcius. Pendinginan ini dibutuhkan untuk menghindari:
  1. Tumbuhnya jamur pada hasil akhir. Hasil akhir akan dibungkus dengan plastik. Suhu yang panas akan berakibat mengembunnya udara yang ada didalam plastik. Embun ini dapat memicu timbulnya penjamuran.
  2. Plastik pembukus produk dapat meleleh sehingga produk akan menjadi lengket satu sama lain.
  3. Nilai Plasticity Retention Index (PRI) akan turun akibat panas yang tertahan dalam kemasan.
Sebelum dibawa keproses packing, Box Dryer terlebih dahulu dikeluarkan isinya (berupa remahan berbentuk bantalan yang telah kering) dan diletakkan ke meja sortasi. Hasil yang keluar dari Dryer akan dipisahkan secara visual antara hasil yang memenuhi spesifikasi dan hasil yang keluar dari spesifikasi/out spek. Hasil yang out spek biasanya adalah hasil yang masih mengandung karet mentah/virgin rubber/white spot (ditandai bintik putih dan bau yang menyengat), atau bisa juga hasil yang terlalu matang (lembek dan lengket). Di meja sortasi dilakukan juga pemeriksan terhadap kontaminasi (mis: serpihan kayu, plastik atau logam).
Gbr. Pekerja sedang memindahkan isi box dryer ke meja sortasi
Pabrik kami biasanya menerima order SIR 10 dalam bentuk kemasan Shrink Wrapped Jumbo Pallet (SW/JP). Jadi dalam tulisan ini saya hanya akan menjelaskan bagaimana jalannya proses packing dalam bentuk Shrink Wrapped Jumbo Pallet (SW JP) tersebut. Jika ada kesempatan saya juga akan menjelaskan bagaimana proses untuk bentuk kemasan yang lain.
Hasil yang telah lewat sortasi selanjutnya ditimbang sebanyak 35 kg dan selanjutnya dilewatkan ke Metal Detector. Metal Detector akan memeriksa kandungan logam pada produk. Kontaminasi logam harus dihindari.
Hasil keluaran dryer selanjutnya akan dicetak menjadi bentuk kotak memanjang dengan berat 35 kg. Pencetakannya dilakukan dengan mesin Press Bale. Remahan-remahan akan di tekan dalam sebuah cetakan hingga didapatkan ukuran 17 cm x 36 cm x 72 cm. Hasil cetakan ini disebut dengan Bandela atau sering juga disebut Bale. Bandela tersebut selanjutnya akan dibelah dalam arah memanjang (tidak sampai terbelah 2) untuk memeriksa apakah bandela bebas dari kondisi bintik putih (Whitespot). Karet mentah dalam bandela biasanya akan menimbulkan bekas bintik putih (White spot). Apabila ditemukan bintik putih (white spot) maka Bandela harus segera disingkirkan (out spek). Setelah bandela diyakini bebas dari white spot maka bandela sudah siap untuk dibungkus dengan pembungkus plasitk.
Gbr. Penimbangan untuk mendapatkan berat 1 bandela (35 kg)
Gbr. Bandela dilewatkan ke Metal Detector untuk memeriksa kandungan logam.
Gbr. Remahan selanjutnya dicetak pada mesin Press Bale
Gbr. Bandela dibelah untuk memeriksa kontaminasi yang ada didalam bandela
Gbr. Bandela dibungkus dengan plastik
Gbr. Bandela disusun ke dalam Forming Box
Bandela yang sudah dibungkus dengan plastik selanjutnya akan disusun ke dalam Forming Box. Mula-mula alas Forming Box dilapisi dengan plastik polietilen yang memiliki ketebalan 0,10 - 0,15 mm, kemudian bandela disusun diatas alas peti. Bandela disusun sebanyak enam lapis dengan 6 buah bandela untuk tiap lapisannya. Artinya akan ada 36 bandela dalam 1 Forming Box. Antara setiap lapisnya diberi alas plastik interlayer yang merupakan satu potong (utuh) dalam setiap kemasan.
Kemasan Shrink Wrapped Jumbo Pallet (SW/JP) beralaskan Tapak Kayu. Syarat kayu yang digunakan sebagai tapak SW/JP adalah kayu Meranti II atau kayu sembarang no. 1 atau kayu karet yang memenuhi persyaratan dengan warna merah atau kuning dengan berat jenis > 0,6 dan tidak berjamur/lapuk. Kayu yang digunakan harus difumigasi. Kadar air kayu diharapkan dibawah 20%  sehingga fumigasi lebih efektif. Kayu harus diketam bagian luar dan dalam, bebas dari serpihan atau serbuk kayu. Arah paku harus menuju arah luar dengan pengertian kepala paku dan mata paku tidak boleh menonjol.
Sesudah seluruh bandela tersusun dalam Forming Box, maka diatas susunan bandela diletakkan tutup papan yang ukurannya persis sama dengan ukuran Forming Box sehingga apabila ditekan dapat masuk ke dalam Forming Box. Diatas tutup papan tersebut diletakkan beban seberat 2 Ton selama 36 - 48 jam sehingga apabila beban tersebut diangkat maka diperoleh suatu susunan bandela yang padat dan rapi.
Selanjutnya plastik pengemas dalam bentuk kantung diselubungkan pada susunan Bandela yang telah padat dan rapi tersebut dan dipanaskan dengan shrink fast gun yang bahan bakarnya elpiji sampai plastik pembungkus menyusut dengan rapat.
Susunan Bandela yang padat dan rapi tersebut selanjutnya disebut dengan Pallet. Setiap palet terdiri dari 36 bandela sehingga berat untuk 1 palet adalah 1260 kg. Palet-palet inilah yang menjadi produk akhir di pabrik kami. Palet-palet kemudian disimpan di dalam gudang penyimpanan menunggu Order Pengiriman dari Bagian Penjualan.
Demikian penjelasan yang dapat saya sampaikan tentang Proses Pengoahan Karet Crumb Rubber. Penjelasan-penjelasan lain akan saya bikin kembali ditulisan-tulisan selanjutnya.
Semoga bermanfaat.

Minggu, 29 Mei 2011

Miss this moment (Tribute to Anwar, Ajo, Dinar, Kael)

Dari kiri ke kanan: Anwar, Mangasa, Dinar, Kael, Ajo

Photo diatas diambil di sebuah sungai (nama sungainya nggak ingat lagi) disekitar Kecamatan Sawo, Kabupaten Nias Utara. Photo tersebut saya copot dari halaman Facebook teman  saya, bro Anwar (ijin ya bro). Kami (yang ada didalam photo) dulunya sama-sama bekerja di sebuah organisasi yang bernama UN Habitat, yaitu sebuah organisasi bentukan United Nation (lebih dikenal Perserikatan Bangsa-Bangsa), dengan fokus program kerja membangun shelter atau rumah tinggal bagi korban bencana alam. Nah, waktu itu Pulau Nias termasuk salah satu dari beberapa daerah yang menjadi korban bencana alam gempa bumi (kalau nggak salah gempa buminya terjadi dibulan Maret 2006, tolong dikoreksi ya). Ada banyak warga yang kehilangan tempat tinggal akibat dirusak gempa. UN Habitat melihat permasalahan ini dan kemudian datang membawa bantuan untuk membangun pemukiman warga yang rusak.

Kami (yang ada didalam photo) adalah beberapa diantara orang-orang yang direkrut oleh UN Habitat untuk menjalankan programnya. Diorganisasi inilah kami pertama kali bertemu dan tidak ada yang menduga kalau kami akan menjadi sekelompok sahabat. Seingatku ada sekitar 30 orang yang bekerja dalam program ini. Adaptasi disaat bergabung dengan rekan-rekan kerja yang lain bisa dibilang kurang mulus. Ada beberapa gesekan-gesekan yang membuat suasana diawal bekerja kurang nyaman. Saya sempat berpikir bahwa ini akan menjadi awal dari sebuah neraka (berlebihan kali ya…he..he.he). Tapi ternyata dugaan saya nantinya salah. Saya malah menemukan sahabat-sahabat yang luar biasa di "neraka" ini (he..he…he). Mereka adalah Anwar, Ajo, Dinar dan Kael (Apa kabar semuanya? Semoga kalian membaca tulisanku ini). Dan masih ada juga nama-nama lain (yang juga sahabat saya), tapi saya hanya akan menceritakan orang-orang yang ada didalam photo untuk tulisan kali ini.

Saya akan bercerita dimulai dari awal saya masuk ke organisasi UN Habitat ini. Sebuah lingkungan kerja yang mulanya saya rasakan uncomfortable. Kelengkapan-kelengkapan akomodasi yang saya dapatkan pada saat mulai bekerja jauh dari harapan.  Tidak semua orang beruntung mendapatkan tempat tidur yang nyaman karena kelengkapan mobiler masih baru mau dilengkapi. Ada yang terpaksa tidur dikursi, dimeja atau dilantai dengan tikar seadanya. Saya sendiri malah tidur didalam mobil selama 2 minggu pertama bekerja. Kondisi serba kekurangan inilah yang membuat suasana menjadi kurang nyaman. Hukum rimba menjadi seolah-olah berlaku dan saya menjadi sangat khawatir kalau saya tidak akan menemukan seseorang yang bisa dijadikan kawan apalagi sahabat.

Kekhawatiran saya berakhir ketika kami mulai dibentuk kedalam beberapa tim. Program kerja kami adalah membangun 486 unit rumah tinggal. Untuk itu kami dibagi kedalam beberapa tim yang setiap timnya menangani sekitar 80 unit rumah. Nah, rekan yang menjadi satu tim dengan saya mula-mula adalah si Anwar (Apa kabar Bro?). Satu buah Tim beranggotakan 3 orang, namun karena tenaga kerja masih belum lengkap maka tim kami hanya terdiri dari 2 orang, yaitu saya dan Anwar. Mengantisipasi kekurangan ini, maka kedalam tim kami diperbantukan 1 orang yang diambil dari tim Arsitek yang bernama Dinar. Hanya ada 5 orang wanita yang bekerja dalam proyek ini dan salah satunya adalah si Dinar ini (Apa kabar Dinar?). Setelah beberapa bulan kemudian datanglah anggota baru kedalam tim kami yang bernama Zulia Pendi (awalnya kami berpikir dia wanita), dan Dinarpun ditarik kembali oleh tim Arsitek. Tim inilah yang menjadi titik awal tumbuhnya jalinan persahabatan.

Bro Anwar yang ganteng dan baik hati
Bekerja dengan Bro Anwar ternyata sangat menyenangkan. Orangnya baik hati, ganteng (disukai oleh wanita) dan gampang bersosialisasi dengan warga. Kemampuan bersosialisasinya benar-benar bikin kagum. Dalam beberapa bulan di Nias si Bro Anwar sudah mampu berkomunikasi dalam bahasa lokal (walaupun pas-pasan). Dengan kemampuannya inilah kami menjadi lebih mudah dalam bekerja. Kegantengannya (katanya sih mirip Nicholas Saputra) membuat bro Anwar menjadi pembicaran dikalangan gadis-gadis. Tentunya kondisi ini berdampak juga kepada saya yang juga satu tim dengannya (kecipratan dekat dengan gadis-gadis..he…he…he). Dia orang yang sangat pengertian dan mampu menjaga keutuhan tim. Terus terang, dulunya saya memiliki watak yang keras dan memang sulit untuk bisa bergaul dengan orang lain. Kelemahan ini ternyata berhasil diantisipasi Bro Anwar sehingga kami menjadi tim yang solid (Thanks ya bro).

Dinar yang ceria dan optimis
Dinar merupakan orang pertama tempat saya berani bercerita tentang keluh kesah selama bekerja di proyek ini.  Kepadanyalah saya pertama kali mengeluh tentang kondisi pekerjaan. Cewek yang satu ini banyak memberi nasehat penting yang membantu saya dalam menghadapi tantangan-tantangan kerja (Thanks ya Din). Dinar sendiri seseorang yang selalu menghadapi semua persoalan dengan pandangan optimis. Sifatnya ceria dan selalu tertawa dalam kondisi apapun baik senang maupun susah. Cara dia tertawa sangat khas dan nggak bisa terlupakan. Kawan-kawan yang pernah bekerja dengannya pasti mengerti apa yang saya maksud dengan cara dia tertawa (He…he…he… Sorry ya Din, nggak bermaksud menyinggung kok). Sangat beruntung bisa mengenal si Dinar ini.

Ajo yang cerdas dan berwibawa
Kemudian Zulia Pendi atau lebih sering kami panggil dengan sebutan "Ajo" (Panggilan abang dikalangan suku Padang Pariaman) adalah orang yang bergabung dengan tim beberapa bulan kemudian. Posisi Dinar yang sebelumnya diperbantukan kedalam tim kami kemudian diambil alih oleh si Ajo. Orangnya cerdas, berwibawa dan berjiwa kesatria. Sebuah pribadi sempurna untuk figur Pria Idaman Wanita (he…he…he). Pemikirannya yang bijaksana membawa tim menjadi lebih terkontrol (Thanks ya bro). O iya, salah satu kelebihannya lagi adalah si Ajo ini pintar kali memasak. Dia jagonya buat masakan panggang ikan. Kebetulan lokasi proyek kami dekat dengan pantai sehingga ikan segar dari nelayan yang pulang dari melaut bisa dengan mudah kami dapatkan. Dalam sebulan sekali kami selalu mengadakan acara panggang ikan. Sebuah acara yang juga tidak terlupakan yang selalu dimotori oleh tim kami karena tim yang lain nggak mampu buat acara seperti ini (He..he..he jadi agak sombong).

Kael yang multi talenta
Mikael Marbun atau sering kami sebut dengan sebutan pendek "Kael" bekerja di tim Arsitek. Si Kael ini merupakan atasan si Dinar dan juga dari awal nampaknya sudah naksir sama si Dinar. Usahanya memang ngggak sia-sia karena sekarang dia telah berhasil menjadikan Dinar menjadi pasangan hidupnya (Selamat ya, untuk Dinar dan Kael). Mereka kini telah menikah dan memiliki 2 orang buah hati. Kael orang yang memiliki watak tegas, pekerja keras, punya banyak ketrampilan dan efektif dalam bekerja. Karena dia memang dari awal naksir sama si Dinar, maka diapun sering bergabung bersama dengan tim kami. Meskipun demikian, dia tetap kok menjaga profesionalitas dalam bekerja (Thanks ya laek).

Kami berlima kemudian saling mengenal satu sama lain dan saling mengantisipasi setiap kelemahan. Kombinasi yang sempurna untuk membangun persahabatan yang ideal. Disaat-saat senggang kami sering memanfaatkan waktu untuk sama-sama melakukan petualangan-petualangan kecil. Kami pernah menyusuri goa yang kata warga ada "penghuninya". Kami juga pernah melakukan touring sepanjang pantai pulau Nias dari Banuagea hingga ke Teluk Dalam dengan menggunakan Sepeda Motor (jarak tempuhnya kurang lebih 400 km pulang pergi). Photo tersebut diatas adalah salah satu lokasi yang menjadi tempat kami berpetualang. Kebersamaan ini membuat saya merasakan ikatan yang spesial diantara kami (kuharap kalian juga merasakan hal yang sama). Kael saat ini sudah menikah dengan Dinar. Ajo juga sudah menikah. Bro Anwar kabarnya sebentar lagi akan menikah. Tinggal saya sendiri yang masih tanda tanya (he…he…he). Semoga persahabatan ini akan tetap terjalin. Amin…..

Dibawah ini ada sebuah karikatur tentang persahabatan. Ambil nilai positifnya ya…